Home / Kota Padang / Pemko Padang “Takicuah Di Nan Tarang”

Pemko Padang “Takicuah Di Nan Tarang”

PT. Semen Padang Tidak Pantas Terima Penghargaan PLH

Padang (LN)-Prestasi yang diterima PT. Semen Padang, tentang didapatkannya Penghargaan Peduli Pengelolaan Lingkungan Hidup (PLH) dari Pemko Padang, yang diterima oleh Kepala Departemen Komunikasi dan sarana umum ( KSU) Ampri Satyawan, pada 15 Juni 2015 di Padang terasa naif dan penuh rekayasa.

Sepertinya, Pemko Padang sudah “Takicuah dinan tarang” karena sudah memberikan penghargaan peduli PLH kepada PTSP yang jelas kondisinya tidak sesuai dengan semestinya.

Pemberian penghargaan ini terasa sangat aneh dan terkesan dikondisikan sebagai bentuk pencitraan di tengah masyarakat. Karena, kondisi sebenarnya jauh berbeda, dampak limbah PTSP sudah menggerogoti lingkungan masyarakat sekitar tambang maupun pabrik PTSP.

Dikutip dari media MONGABAY.CO.ID, (4/10/2014) Sebanyak 560 warga komplek Home Owner dari RW V, RW VI dan RW VII, Kelurahan Ranah Cubadak, Kecamatan Lubuk Kilangan Kota Padang melaporkan dugaan pencemaran udara akibat operasional pabrik PT Semen Padang kepada KLH yang difasilitasi oleh Walhi Sumbar. Laporan ini kemudian direspon oleh KLH dengan menurunkan timnya untuk melakukan verifikasi lapangan di lokasi pabrik selama empat hari pada 25-28 Agustus 2014.

Rudi, warga kelurahan Limau manis Selatan mengatakan “hingga sekarang limbah debu produksi PTSP masih bebas menyelimuti kawasan Lubuk Kilangan serta Pauh. bahkan aliran sungai di daerah inipun sudah tidak dapat lagi dimanfaatkan warga, karena telah menjadi tempat pembuangan limbah produksi PTSP”, ucapnya.

Ditempat terpisah, Syafril warga Sikayan Mansek kelurahan Batu Gadang mengungkapkan kekecewaannya “ Selama puluhan tahun masyarakat Sikayan Mansek ini hidup menderita. Air sungai tidak lagi dapat dimanfaatkan karena dicemari limbah tambang . Saat sekarang kami sangat sulit untuk mendapatkan sumber air bersih. Kami tidak bisa lagi bercocok tanam karena tanah disini telah ditutupi bebatuan tambang yang selalu dibawa oleh air bah (banjir) yang berasal dari tambang, belum lagi efek getaran blasting (pengeboman) yang dapat menggugurkan bunga serta putik tanaman “ terang Syafril.

Dari pantauan LSM LP-KPK Sumbar, kondisi lingkungan disekitar lingkungan tambang serta pabrik pengolahan semen PTSP begitu sangat menghawatirkan. Limbah sisa pengolahan tambang galian C bukit kapur karang putih maupun sisa pengolahan pada pabrik, dibuang bebas ke aliran sungai masyarakat, sehingga berpengaruh terhadap pengurangan produktifitas pertanian serta perikanan masyarakat. Tidak hanya itu, hingga sekarang limbah debu produksi pun juga ikut mencemari udara bebas. Hal ini sangat berbahaya untuk kesehatan makhluk hidup. Areal pertanian masyarakatpun juga tidak lagi efektif karena ditutupi sendimen debu semen yang mengeras dan ini sudah menjadi rahasia umum.

Dengan kondisi nyata ini, apa yang menjadi dasar penilaian Pemko Padang sehingga seenaknya memberikan penghargaan PLH kepada PTSP , ucap Zulkifli,SH

Zulkifli menambahkan,” Semestinya, Pengolahan lingkungan industri yang menggunakan bahan-bahan kimia dan menimbulkan limbah, sehingga terjadinya pencemaran terhadap lingkungan perlu sebuah pengkajian yang mendalam dan sesuai, sehingga bisa memberikan nilai batas-batas maksimum bagi limbah industri yang akan dibuang ke lingkungan alam, memanfaatkan serta meningkatkan teknologi tepat guna dalam pengelolaan limbah, sehingga ramah terhadap lingkungan. Dengan cara seperti ini, keberadaan perusahaan juga dapat menjadi manfaat terhadap alam serta masyarakat lingkungan”. (TIM)

Check Also

Dukung Program Wako Padang Lahirkan 10.000 Wira Usaha, Dinas Perdagangan Padang Gelar Bimbingan untuk Pedagang Micro Kecil dan Eceran

Padang (LN)—Dinas Perdagangan Kota Padang memberikan Bimbingan peningkatan perdagangan mikro kecil dan eceran, Selasa (13/8) …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *