Home / ---- / Tahun Baru Zaman Now Tidak Perlu Hura-Hura

Tahun Baru Zaman Now Tidak Perlu Hura-Hura

Lima… empat… tiga… dua… satu… toooeet…!!! Tanpa komando dan aba-aba, penonton di studio ataupun pemirsa di rumah serempak meniup terompet. Nyala kembang api dalam berbagai warna menerangi gelapnya malam menambah kemeriahan dan maraknya suasana. Buat remaja, terasa garing dan kering-kerontang kalo malam tahun baru kagak pake acara arak-arakan di jalan raya.

Raungan keras dari knalpot dan teriakan klakson kendaraan bermotor memecah kesunyian. Baik dengan jalan kaki atau pake kendaraan bermotor sambil bakar petasan dan kembang api, niup terompet, plus ngedarin “kantong in-pak (iuran paksa)” dari gelas plastic. Berlanjut dengan pemberian ucapan selamat tahun baru, sun pipi kiri-kanan (cipika cipiki), tukar-menukar kado, campur bawur cowok cewek dst. Lebih ironis lagi, sebagian mereka minum minuman keras, ngedrugs, fly dan kumpul kebo tanpa sedikit pun rasa malu.

Fenomena semacam inilah yang kiranya marak di akhir zaman ini, sudahkah terlintas dalam benak kita untuk berpikir lebih jauh bahwa masih banyak hal-hal yang bermanfaat dari pada sekedar hura-hura yang menghamburkan uang sia-sia, sempatkah terketuk hati kita oleh tangisan anak-anak jalanan yang butuh asuhan? Atau rintihan orang-orang cacat yang mengemis di pinggir-pinggir jalan yang butuh uluran tangan? Atau nyanyian berontak orang-orang pinggiran yang selalu ditindas dan disia-siakan? Lalu bagaimana seharusnya kita menyikapi tahun baru ini? Apakah yang semacam itu sesuai dengan etikat kita sebagai seorang muslim? Apakah yang semacam itu sesuai dengan jiwa patriotisme yang seharusnya dimiliki generasi bangsa? Seperti kita tahu, kalo perayaan pergantian tahun bukan merupakan tradisi warisan Nusantara dan bukan tradisi umat Islam. Namun tradisi itu berasal dari orang-orang non muslim, yang kemudian meluas dan meracuni pikiran remaja.

Dengan dukungan sumber informasi dunia yang mereka kuasai, mereka menyeru dan mempublikasikan hari-hari besar mereka ke seluruh lapisan masyarakat serta dibuat kesan seolah-olah hal itu merupakan hari besar yang sifatnya umum dan bisa diperingati oleh siapa saja. Padahal ini merupakan salah satu cara mereka untuk menjauhkan umat Islam dari agamanya.

Hati-ha ti ya… Sialnya, banyak dari kita yang nggak menyadari serangan budaya ini. Rasul dengan tegas melarang umatnya untuk meniru-niru budaya atau tradisi non islami. Rasulullah bersabda yang maknanya: “Barangsiapa yang menyerupai (bertasyabuh) suatu kaum, maka ia termasuk dari golongan mereka”. (HR. Abu Dawud, Ahmad, dan ath-Thabarani). Trus gimana dong?

Pertama, kita nggak perlu malu untuk menolak ajakan teman untuk hura-hura atau pesta-pora di malam tahun baru. Di hadapan temen-temen boleh jadi kita dianggap sombong, pecundang atau malah dikira makhluk asing karena ‘beda’. Tapi dari perspektif lain, justru merekalah yang asing dari budaya Nusantara. Bumi Nusantara yang berpenduduk + 85% muslim tidak mewariskan budaya itu. Tegas… tegas… dan tegaslah!!!.

Kedua, kita nggak ngikut tahun baruan, bukan berarti kita nggak peduli dengan pergantian tahun lho. Tetep kita nyadar kalo pergantian tahun merupakan bagian dari perubahan waktu. Dari situ, kita mencoba menyikapi waktu dan menjadikannya sebagai alat ukur untuk mengevaluasi diri kita.

Rasulullah Bersabda yang maknanya: “Sebaik-baik manusia adalah orang yang diberi panjang umur dan baik amalannya, dan sejelek-jelek manusia adalah orang yang diberi panjang umur tetapi jelek amalannya”. (HR. Ahmad).

Sekaligus kita jadikan batu loncatan untuk seribu langkah lebih maju, sukses belajar dan karir nantinya. Rancang dari awal proker pribadimu dan peta petualangan mengarungi bahtera pengalaman dan ilmu pengetahuan. Kesempatan yang Allah berikan nggak akan datang dua kali.

Waktu yang telah kita lewati nggak akan bisa diputar kembali. Karena itu, mari kita sama-sama sambut kesempatan yang Allah berikan dengan memperbanyak amal saleh, Kita luruskan niat dalam berperilaku semata-mata mengharap ridho Allah. Kita ringankan langkah kaki menuju taman-taman surga tempat mengkaji ilmu agama, memahami, meyakini syari’at Allah dan menerapkannya dengan penuh keikhlasan.

Di tengah serangan budaya dan pemikiran Barat, Mari kita padati hari-hari kita untuk siapkan perbekalan dalam menghadapi masa tua dan masa amalan kita diperhitungkan dengan senantiasa menjauhi larangan Allah dan menjalankan perintahNya dengan sepenuh hati, dan meninggalkan godaan serta mahligai dunia yang bergemerlapan dan menyilaukan demi menyongsong kehidupan yang kekal abadi. Apalah artinya senang di dunia tapi sengsara di akhirat. Sungguh kehidupan akhirat adalah lebih baik dan abadi.

Bahagialah orang yang telah menghabiskan nafasnya dalam ketaatan. Sebaliknya celakalah orang yang mati dalam keadaan tak beriman. Semoga kita bisa menutup lembaran hidup dengan keimanan yang sempurna amin ya Rabbal ‘alamin…

Dibuat oleh : Yonder WF Alvarent

Ketua Garda Bangsa Sumbar & Aktifis Pemuda

 

Check Also

Masyarakat UKU Kesal, BWSS V Sumbar Abaikan Tumpukan Sedimen

Padang (LN)—Masyarakat Ulak karang utara (UKU) kec. Padang Utara mengeluh karena kerukan sedimen yang ada …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *