Home / BERITA TERBARU / TIMSES UNJUK GIGI, PEMBANGUNAN DAERAH SARAT NEPOTISME

TIMSES UNJUK GIGI, PEMBANGUNAN DAERAH SARAT NEPOTISME

By : Fitrahtul Hayat Djohor

Dimana-mana, “jariah pantang buliah” (upaya balas jasa itu harus) itulah secara tidak langsung ungkapan dari para Tim Sukses (TIMSES) kepada jagoanya. Memang betul rasanya dan sudah menjadi kelumrahan dikira, meraka yang berbuat selama ini mendapatkan balasan jasa.

Misalnya, TIMSES yang telah memenangkan arena pertarungan politik katakanlah se-Sumbar yang memberitahukan bahwa “mana proyek buat kami” dengan simulasi pengemasan berupa even meriah agar “mereka” itu terpetakan.

Kebanyakan dari mereka merasa khawatir jika partisipasinya tidak jelas karena banyaknya TIMSES yang lakukan peran sehingga antara yang berjasa dengan yang tidak, susah untuk di pilah. Nah, upaya kemasan pun dilakukan dengan menyajikan even berindikasi pada daya tarik.

Mereka yang jadi TIMSES itu mengharapkan pekerjaan, proyek dan sebagainya lah. Kekhawatiran tidak kebagian “kue” merupakan bagian dari pikirannya.

Parahnya, setelah mereka diyakini menjadi TIM yang paling berjasa, ujung-ujungnya terbuatlah permintaan agar diperlakukan secara khusus di dalam pemerintahan selayaknya Pejabat-pejabat SKPD di daerahnya.

Mereka bisa berbisik, pindahkan itu pindahkan ini kalau kemauan tak direspon. Itulah kepentinganya.

Artinya bisa saja Kepala Daerah yang dimenangkan seakan terhutang dan mau tak mau suka tak suka harus balas itu yang namanya budi. Kemungkinan pelaksanaan tender tidak berimbang pun sepertinya ada, lihat saja nanti.

Dampaknya, profesionalisme jadi menipis di dalam tubuh pemerintahan yang terpimpin oleh kepala daerah terpilih. Kalau rakyat tetaplah menggeluti keseharianya dan pejabatpun begitu serta pejabat khusus diluar system seperti “mereka” pun begitu.

Apapun ceritanya mereka harus kebagian KUE. Ujung-ujungnya pembangunan nagari ini sarat korupsi dalam kategori nepotisme.

Rakyatpun sedari berjalanya waktu sadar atau tidak dikelilingi oleh para koruptor. Keadilan Sejahtera untuk rakyat itu tidak ada, masyarakat banyak miskin, mereka sibuk dengan kepentingan untuk  kelompok sejahtera.

Check Also

Jelang Lebaran KPK Kembali Lakukan OTT, Gubernur Bengkulu dan Istrinya Ditangkap Terkait Dugaan Suap

Jakarta (LN)- Operasi tangkap tangan (OTT) KPK terhadap Gubernur Bengkulu Ridwan Mukti dan istrinya, Lily …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *