Home / ---- / PT.SEMEN PADANG BAK “PENJAJAH”, AMBIL KEUNTUNGAN DIATAS PENDERITAAN

PT.SEMEN PADANG BAK “PENJAJAH”, AMBIL KEUNTUNGAN DIATAS PENDERITAAN

Padang (LN)—Perlakuan PT. Semen Padang (PTSP) tidak obahnya seperti “penjajah”, hanya mencari keuntungan semata tanpa menghiraukan kondisi sosial dilingkungan sekitarnya.Masyarakat Sikayan Mansek yang tepat berada di bawah tambang bukit kapur Karang Putih PTSP merasa sudah dikebiri.Kekayaan alam sebagai sumber kehidupan masyarakat dikuras habis-habisan.

Jeritan tangis masyarakat terdengar menyayat hati, tetap membuat PTSP tidak bergeming, sepertinya tidak peduli dengan kondisi tersebut. PTSP sudah tuli dan buta, hanya sibuk menghitung laba hasil penjualan batu kapur bukit karang putih yang merupakan hutan tempat bergantung masyarakat Sikayan Mansek kec.Lubuk Kilangan.

Di Sikayan Mansek ini, terlihat kondisi masyarakat yang sanggat memilukan, potret kebodohan dan kemiskinan melekat erat di perkampungan ini.

PTSP KANGKANGI UU NO.32/2009, ABAIKAN KONDISI SOSIAL MASYARAKAT

Dalam menjalankan bisnisnya, PTSP dinilai sudah mengangkangi UU No.32 Tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Yangmana dalam UU tersebut, seharusnya perusahaan bertanggungjawab terhadap kesejahteraan masyarakat sekitarnya, namun hal itu tidak dilakukan oleh PTSP sepenuhnya.

Jika mengacu kepada aturan yang ada, seharusnya Masyarakat Sikayan Mansek menjadi prioritas bagi perusahaan BUMN yang berlogo “kerbau” ini dalam setiap memberikan bantuan sosial¬† karena yang pertama merasakan dampak dari penambang batu kapur Karang Putih adalah masyarakat Sikayan Mansek.

Diskriminasi ini sanggat jelas terlihat, karena akses jalan untuk menuju kampung Sikayan Mansek masih menggunakan jalan tanah. Bahkan tanpa malu, jalan tanah yang merupakan hasil swadaya masyarakat ini kerap kali dilintasi oleh karyawan PTSP untuk menuju ke lokasi tambang kapur Bukit Karang Putih.

Jadi sanggat tidak pantas rasanya, apabila perusahaan semen terbesar di Indonesia ternyata hanya memikirkan keuntungan semata, sementara perhatian terhadap lingkungan masyarakat sekitarnya hanya isapan jempol belaka.

Kondisi ini sudah bertahun-tahun terjadi, masyarakat sudah muak menghadapi kondisi di sekelilingnya mencoba memberonta dan menjerit tapi semua pupus. jeritan mereka diredam deru mesin pabrik PTSP.

DAMPAK TAMBANG BUKIT KARANG PUTIH, 300 JIWA MASYARAKAT SIKAYAN MANSEK TERANCAM BANJIR BANDANG DAN LONGSOR

Dari survey media ini bersama LSM LP-KPK Sumbar, didapatkan hasil bahwa masyarakat di Sikayan Mansek mayoritas tidak setuju dilakukannya penambangan batu kapur bukit karang putih oleh PTSP, tapi apadaya mereka tidak bisa berbuat apa-apa.

Dampak dilakukannya tambang ini, membuat kampung Sikayan Mansek yang tepat berada dibawah kaki bukit karang putih terancam bencana banjir bandang dan longsor. Apabila hujan datang, masyarakat  mulai merasa was-was dan cemas. Bahkan untuk menghindari resiko, mereka mengungsi ke kampung seberang.

Saat ini, yang menjajah rakyat bukanlah bangsa lan, melainkan bangsa sendiri. Hasil kekayaan daerahnya, tidak dapat dinikmati. Yang kenyang menikmati hasil kekayaan alam adalah
Mereka hanya bisa jadi penonton dan tidak bisa berbuat apa-apa. Yang didapatkan hanya debu dan limbah, sementara hasilnya diambil dan dinikmati oleh para pengusaha dan penguasa.

LSM LP-KPK : TINJAU ULANG IZIN TAMBANG BUKIT BATU KAPUR KARANG PUTIH PT. SEMEN PADANG

Melihat kondisi masyarakat yang tertindas ulah prilaku PTSP yang dipandang hanya mencari keuntungan semata, tanpa memperhatikan kondisi masyarakat yang ada disekitarnya, membuat LSM Lembaga Pengawasan Kebijakan Pemerintah dan Keadilan (LP-KPK) Sumbar geram, lalu angkat bicara terkait hal tersebut.

Ketua LP-KPK Sumbar, Zulkarnaini, “PTSP harus bertanggungjawab terhadap kondisi sosial masyarakat disekitarnya, seperti pendidikan, kesehatan, pembangunan dan sebagainya.
PTSP Jangan hanya memikirkan keuntungan semata, dan mengabaikan kewajibannya sebagaimana sudah diaturan dalam UU Nomor 32 Tahun 2009, ingat Zulkarnaini.

Sambungnya, “Sedangkan terkait adanya penambangan bukit Karang Putih Batu Gadang, seluas 412 hektar yang ditengah di garap PTSP, perlu dilakukan kaji ulang. Karena, apabila penambangan tetap dilakukan maka diprediksi bisa mendatangkan bahayakan bagi 300 jiwa masyarakat Sikayan Mansek”. Ini perlu menjadi perhatian serius bagi pemerintah, tegasnya. (Tim)

Check Also

Kontrol Pembangunan Mesjid Kantor Gubernur, PTP DPUPR Sumbar Ingatkan “Jangan Cepat Puas”

Padang (LN)–DPUPR Sumbar terus memantau perkembangan pekerjaan Pembangunan Mesjid kantor Gubernur Sumbar Meskipun pada saat …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *